Sehari Menyusuri Labirin-labirin Kotagede

Mural yang menghias dinding rumah warga dekat situs Watu Gilang

Kotagede selalu diingat sebagian besar pelancong sebagai pusat kerajinan perak di Yogyakarta. Di sini, mayoritas pertokoan memang menjual berbagai kerajinan perak. Dari deretan toko di pinggir jalan utama sampai toko-toko yang berada di gang-gang kecil. Tapi Kotagede lebih dari itu. Semakin masuk ke dalam dan semakin jauh dari gapura masuk bertuliskan “Selamat Datang di Sentra Kerajinan Perak”, kita akan semakin melihat wajah Kotagede yang sangat beragam. Setidaknya, dari arsitektur bangunan, kita akan menyaksikan rupa-rupa gaya bangunan yang sebenarnya mewakili era yang pernah menjamah Kotagede. Ini bukan kali pertama saya singgah di Kotagede. Sudah berkali-kali. Tapi ini untuk pertama kalinya saya singgah di Kotagede khusus untuk menyelami kehidupan masa lalu dan masa kini Kotagede. Saya adalah satu dari seratus lebih peserta blusukan budaya yang diadakan oleh komunitas sejarah Kandang Kebo yang hari itu blusukan di Kotagede. Mulai dari komplek makam raja-raja awal Mataram Islam, hingga kehidupan sosial dan perekonomian masa lalu Kotagede. 

Saat menelusuri Kotagede minggu (25/08) kemarin, saya menyadari bahwa Kotagede adalah sebuah laboratorium yang mewakili beberapa masa sejarah di Yogyakarta. Setiap sudut Yogyakarta memang meninggalkan sejarah. Di titik nol Yogyakarta, beberapa bangunan era kolonial menjadi bukti otentik dinamika kehidupan Yogyakarta yang sarat sejarah, tapi di Kotagede, kita akan menemukan masa lalu yang lebih jauh dari era kolonialisme, karena Kotagede adalah ibu kota pertama serta tempat lahirnya kerajaan Mataram Islam yang dirintis oleh Ki Ageng Pemanahan. Dengan fakta ini, Kotagede menjadi laboratorium sejarah serta, jika tidak berlebihan, adalah kota kuno yang sampai saat ini masih eksis dengan kehidupan sosialnya yang amat dinamis. 

Hal paling mudah dalam melihat peralihan masa dan sejarah yang menjamah Kotagede adalah dengan mengamati bangunan-bangunan yang ada di setiap sudut Kotagede. Sekilas, bangunan-bangunan di sini mirip dengan perkampungan Kauman dan sekitar Kraton Yogyakarta. Cenderung padat dengan arsitektur bangunan lama. Kentara sekali kalau bangunan di kawasan Kotagede adalah bangunan yang telah ada jauh sebelum revolusi. Rumah lama yang masih bisa ditemui di Kotagede sebagian besar sudah berdinding bata. Menandakan bahwa rumah itu kemungkinan dibangun pada era kolonial. Sementara rumah ciri khas Jawa seperti joglo dan limasan sudah jarang terlihat. Saya menemukannya di sisi belakang komplek makam. Menurut pemandu, rumah joglo dan limasan mulai berkurang saat saat para pemilik pertama meninggal. Ahli waris yang biasanya beberapa orang, akan memilih menjual joglo atau limasan untuk menghindari konflik pembagian waris. Selain itu, faktor bencana alam ikut mempengaruhi berkurangnya joglo dan limasan. Tidak heran jika sekarang yang tersisa adalah rumah-rumah berdinding bata yang khas. Beratap rendah dengan ukuran yang cenderung lebih kecil. Sedikit mirip dengan rumah-rumah di Kauman.       

Salah satu gaya rumah lama milik warga di Kotagede

Namun, kita akan menemukan gaya arsitektur yang berbeda jika kita berbelok sedikit ke kawasan tempat saudagar kaya bernama Prawira Suwarno Tembong pernah hidup di Kotagede. Jika kita melihat beberapa bangunan megah di sepanjang jalan Mondorakan dan sekitarnya, itulah bangunan-bangunan yang pemilik pertamanya adalah Prawira Suwarno Tembong atau lebih akrab disebut Pak Tembong. Dulu, bangunan-bangunan itu kerap disebut rumah Tembong. Merujuk pada pemiliknya. Dia adalah saudagar kaya di Kotagede pada era kolonial. Sejarah kehidupan Tembong dan keturunannya diliputi berbagai spekulasi dan pendapat banyak ahli, termasuk penduduk Kotagede yang pada satu titik, pendapat itu bercampur dengan mitos. Ini karena dalam sejarahnya, Tembong adalah keturunan dari Suku Kalang yang asal muasalnya masih jadi perdebatan.

Ada banyak versi yang menyebutkan asal usul Suku Kalang. Satu sumber menyebutkan bahwa mereka adalah tawanan perang India yang mendarat di Indonesia. Sementara sumber lain menyebut mereka adalah salah satu suku di Jawa yang telah lama hidup secara nomaden dari hutan ke hutan di Pulau Jawa. 

Kedatangan pertama mereka ke Kotagede terjadi pada era Sultan Agung. Mereka diminta menetap di Kotagede oleh Sultan Agung. Pada masa itu. Suku Kalang dikenal memiliki keahlian di bidang perkayuan. Tembong adalah generasi Suku Kalang kedua yang datang ke Kotagede setelah generasi sebelumnya sempat meninggalkan kota itu. Tembong sukses menjadi pengusaha berkat hak monopoli jual beli emas dan berlian yang diberikan oleh Kraton Yogyakarta pada Suku Kalang Kotagede yang akrab disebut Wong Kalang. Dari sini bisnis Tembong dan Wong Kalang bercabang-cabang. Dari bisnis emas dan berlian ke pegadaian hingga tenun. Banyak ahli mempelajari watak Suku Kalang yang terbilang ulet yang menjadi legitimasi lain dari kesusksesan Tembong. Bisnis-bisnis Tembong membuktikan bahwa di masa lalu, Kotagede tidak hanya menjadi pusat kerajinan perak. Geliat perekonomian ini jelas lebih semarak dari yang kita bayangkan dan lihat hari ini, yang berpusat pada kerajinan perak.

Secara arsitektur, Rumah Tembong yang berderet sepanjang jalan Mondorakan memiliki gaya khas yang hanya bisa dibuat oleh orang kaya pada era itu. Selain megah dan luas, eksterior dan interior bangunan Tembong kaya akan ornamen mahal yang beberapa merupakan produk impor yang hanya dikerjakan oleh arsitek-arsitek atau desainer dari luar negeri. Sebut saja kaca patri di beberapa bagian bangunan seperti jendela, dinding kaca, dan atap bulat di halaman rumah. Pada era kolonial, kaca patri banyak menjadi hiasan bangunan perkantoran dan gereja-gereja yang semuanya 'milik' orang kulit putih. Selain keluarga kraton, tidak banyak orang bisa menggunakan kaca patri sebagai ornamen bangunan rumah mereka. Kecuali Tembong berkat keberhasilan bisnisnya. Menurut artikel dalam situs Kompas.com, puncak trend kaca patri era kolonial terjadi kisaran tahun 1920 hingga 1930. Setelah kolonialisme di Indonesia berakhir, trend kaca patri ikut redup karena arsitek yang menekuninya ikut kembali ke negara masing-masing. 

Jejak kaca patri di rumah Tembong yang juga dikenal dengan rumah Kalang menjadi penanda keberhasilan bisnis keluarga ini dibanding mayoritas penduduk Kotagede. Keluarga Tembong pada era itu ada di puncak perekonomian. Kondisi ini tentu menimbulkan gejolak sosial dan kesenjangan di masyarakat. Hingga saat ini, perbedaan itu jelas terlihat dari bangunan-bangunan tinggalan Tembong yang serba megah dengan rumah penduduk lainnya yang lebih sederhana dan cenderung berukuran kecil. Saat Indonesia dijajah Jepang, kelaparan dan kesulitan ekonomi menjadi alasan warga untuk menjarah kekayaan milik keluarga ini. Kini, bangunan-bangunan Tembong dimiliki oleh beberapa pihak. Pengusaha dan pemerintah, setelah keturunan Tembong memilih menjual dan keluar dari Kotagede. Kita bisa menikmati tinggalan Tembong ini sambil ngopi di Omah Dhuwur atau belanja buku di Toko Buku Natan.       


Salah satu bangunan tinggalan keluarga Kalang. Dibeli pemerintah daerah dari pemilik terakhir.

Ikon lain yang menandai peradaban tua di Kotagede tentu saja komplek pemakaman para raja dan situs-situs bersejarah terkait lahirnya Kerajaan Mataram Islam. Mataram Islam didirikan pada masa peralihan dari era kerajaan Hindu-Budha ke era kerajaan Islam. Tidak heran jika arsitektur bangunan di komplek makam para raja masih diwarnai gaya Hindu. Itu terlihat jelas sejak kita memasuki komplek pemakaman. Di setiap pintu masuk menuju komplek pemakaman, kita akan disambut gapura dengan bagian atas berundak seperti candi. Komplek ini juga merupakan tempat kerajaan Mataram Islam pertama berdiri sebelum pindah ke Kerto kemudian ke Plered. Penanda keislaman komplek itu adalah bangunan masjid kuno yang banyak dikenal dengan sebutan Masjid Kotagede. 

Keunikan komplek ini tidak hanya dari bangunannya saja, tapi juga kehidupan sosial masyarakatnya. Jauh sebelum Mataram Islam pecah menjadi dua pasca Perjanjian Giyanti, Kotagede adalah ibukota bagi kerajaan yang menguasai sebagian besar wilayah di Jawa. Pasca Perjanjian Giyanti, Kotagede menjadi bagian dari Kraton Yogyakarta. Tapi, keberadaan makam para leluhur dua kerajaan di Kotagede menyisakkan dua perbedaan tak kasat mata. Komunitas abdi dalem Kraton Yogyakarta dan komunitas abdi dalem Kraton Surakarta. Kondisi sosial ini hanya bisa dirasakan penduduk setempat yang sehari-hari hidup di bekas ibu kota Mataram Islam ini.

Sesajen di pintu masuk makam raja
Sekilas, setiap penanda peradaban di Kotagede nampak seperti laboratorium sejarah yang hanya dinikmati saat melancong sembari cekrak cekrek. Seolah kita dan yang kita singgahi adalah hal terpisah. Namun nyatanya, setiap peradaban itu masih mewariskan tradisi hingga kini. Dan itu tidak hanya bagi penduduk lokal saja. Banyak orang dari berbagai kalangan dan penjuru Indonesia khusus datang ke komplek makam para raja untuk bertirakat dan ‘meminta’. Dari politikus hingga warga biasa yang sedang dilanda sakit. 

Dupa dan sesajen lainnya berserakan di kedua sisi pintu masuk makam. Mereka yang ingin meminta berkah dan pertolongan arwah para raja akan bersedia masuk menggunakan pakaian adat Jawa (perempuan memakai kemben, lelaki memakai sorjan) ditemani oleh abdi dalem. Sementara yang lainnya memilih mengambil air di kedua sendang (mata air) yang menempel dengan makam. Air itu digunakan untuk berbagai kebutuhan. Tentu saja, mereka yang datang ‘meminta’ keberkahan di sini tidak mengenal latar belakang ekonomi, status sosial ataupun agama. Jika dilihat dari latar belakang agama, pengunjung yang paling kentara bisa jadi adalah para perempuan muslim. Ditandai dengan kerudung dan pakaian tertutup yang dikenakan. Inilah bentuk warisan yang ditinggalkan peradaban masa lalu bagi penduduk masa kini. Sinkretisme yang dilakukan masyarakat tidak peduli latar belakang mereka. Beribadah sesuai agama yang tercamtum dalam tanda pengenal, tetapi juga mempercayai kesaktian para arwah. 

Jauh dalam pikiran, sebagian besar kita masih meyakini keberadaan arwah leluhur atau orang-orang yang dianggap mulia bisa membantu melancarkan hajat kebutuhan duniawi kita. Entah itu untuk meloloskan jabatan politik atau terbebas dari penyakit. Praktik sinkretisme yang dilakukan di komplek makam ini secara tidak langsung telah mengikis perbedaan yang pasti dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dia yang berpangkat sama harus melakukan ritual tertentu sebagaimana mereka yang tidak berpangkat. Mereka juga harus tuntuk pada aturan. Kalau tidak, kemungkinan hasil ziarahnya tidak terkabul atau tidak diterima.

Rumah Kalang dan komplek pemakaman raja-raja Mataram Islam hanya sebagian kecil cerita yang saya dapatkan sehari itu dari beberapa pemandu. Sebagai sebuah laboratorium, perlu berkali-kali ke Kotagede untuk bisa meresapi setiap lembar sejarah yang melekat di Kotagede. Kota tua di sudut Yogyakarta. Jauh dari pusat kota kini tapi memiliki kehidupan dinamis tersendiri. Kita bisa merasakan perbedaan itu hanya dengan menyusuri labirin-labirin dan jalan sempit di setiap sudut Kotagede.

Comments