Aruna dan Lidahnya, Laksmi Pamuntjak


Laksmi Pamuntjak bukan nama baru dalam jagad perbukuan Indonesia. Setiap kali singgah ke toko buku, saya selalu melihat beberapa buku karyanya di pajang di rak toko buku. Tapi saya baru benar-benar tertarik membaca buku Laksmi ketika buku Aruna dan Lidahnya diangkat ke layar perak oleh Erwin, salah satu sineas Indonesia yang film-filmnya pernah menyabet penghargaan di berbagai festival. Ada rasa penasaran, apa yang membuat buku ini sangat menarik diadaptasi menjadi film? Biasanya, buku yang diangkat ke layar lebar adalah buku fiksi popular dengan angka penjualan tinggi seperti serial Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Tentu saja itu bukan alasan Erwin. Dalam sebuah wawancara, Erwin mengatakan, Aruna dan Lidahnya mengingatkan ia tentang asyiknya menyimak orang saling berbincang sambil menikmati makanan.Alasan yang tak memerlukan ‘best seller’ bagi sebuah buku agar bisa diangkat ke layar lebar. Karena itu, film Aruna dan Lidahnya menjadi film adaptasi lepas. Artinya, isi film tidak sama persis dengan novel tapi tetap mempertahankan esensi. Tentang seni menikmati makanan.

Tetap saja, sulit membandingkan dengan detail perbedaan film dengan bukunya tanpa menonton versi filmnya yang diperankan oleh bintang-bintang kawakan: Dian Sastro (Aruna), Nicholas Saputra (Bono), Hannah Arrasyid (Nad), dan Oka Antara (Farish). Tapi dari bukunya, Laksmi Pamuntjak memang menujukan buku ini sebagai karya yang mengapresiasi dan merayakan makanan melebihi sifat dasarnya yang kerap disebut alasan makan paling primitif: untuk bertahan hidup. Setidaknya, tiga dari empat tokoh utama dalam buku Aruna dan Lidahnya adalah tiga sahabat yang pertemanannya diikat oleh kecintaan mereka pada makanan. Aruna seorang ahli wabah yang memiliki obsesi mendalam pada makanan. Ia mampu menggambarkan setiap makanan secara detail dari citra visualnya yang dia analogikan ke dalam banyak bentuk dan sifat, hingga cita rasanya yang bisa dia hayati sampai ke sumsum tulang. Bono, chef di restoran sebuah hotel selalu tidak takut bereksplorasi dengan berbagai jenis kuliner dan sangat analitis pada setiap makanan yang disantap. Nad seorang penulis perjalanan dan makanan. Ketiganya sama-sama terobsesi pada makanan. Saat Aruna diberi tugas meneliti kasus flu burung yang merebak di delapan kota besar di Indonesia, ia mengajak Bono dan Nad menjelajah kuliner di sela-sela waktu kerjanya.  

Petualangan mereka bermula di Surabaya dan Madura. Dari sudut pembaca, saya sudah bisa mengerti bagaimana obsesi pada makanan digambarkan sebagai bentuk perayaan dan apresiasi. Bukan lagi sekedar untuk memenuhi kepentingan bertahan hidup. Walau kenyang, Aruna dan kedua temannya tetap menyiapkan ruang untuk mencicipi setiap makanan dari setiap lokasi yang dikunjungi, karena sekali lagi, tujuannya bukan lagi untuk bertahan hidup, tapi untuk merayakannya, mengapresiasinya, menganalisisnya, dan mendebatkannya. Tidak hanya rasa, tapi kehidupan sosial tempat lahirnya makanan itu. Misalnya ketika Aruna di Madura (Pamekasan), setiap makanan lezat yang dia santap membuatnya sulit membayangkan bahwa di tempat kuliner lezat itu pernah terjadi konflik berlatar perbedaan keyakinan. Seperti kata Erwin, dalam setiap santapan ketiga sahabat itu selalu berbincang banyak hal dengan akrab dan cair. Tidak melulu soal makanan. Mereka membicarakan apa saja. Pekerjaan, isu terkini, atau hal remeh-temeh lain seperti kebanyakan orang saat menyantap hidangan dalam satu ruang dan waktu.     

Bagiku buku ini menjadi semacam daftar kuliner yang harus dicicipi ketika mengunjungi delapan kota yang didatangi Aruna, Bono, dan Nad. Ada lebih dari sepuluh jenis makanan yang dibahas dalam buku yang semuanya dikulik oleh Laksmi dari sudut pandang keempat karakter dalam Aruna dan Lidahnya. Terutama Aruna, Bono, dan Nad. Ketiganya mengulik makanan dari bentuk fisiknya hingga ke setiap bumbu yang membuat makanan tertentu bercitarasa unik. Dari buku ini, kekayaan setiap kuliner Indonesia tampil dari sudut pandang personal yang diwakili setiap karakter dengan sifat yang berbeda. Kita diajak memahami bagaimana setiap kuliner tersaji secara beragam berdasarkan daerahnya. Kuliner dengan menu inti sama, bisa menawarkan rasa unik yang amat berbeda di setiap lokasi yang dikunjungi mereka dan umumnya sangat khas. Mie di Palembang berbeda cita rasa dengan Mie di Singkawang karena kedua daerah memiliki bumbu dan cara masak tersendiri yang tidak ditemui di masing-masing tempat. Seperti petis yang menjadi ciri khas masakan di Madura dan tradisi memasaknya membuat makanan di Madura berbeda misalnya dengan Aceh yang tidak mengenal petis dalam menu makanan mereka. Selain itu, ada akulturasi budaya dalam setiap makanan yang disajikan. Hal-hal seperti itu secara detail diulik setiap karakter dalam buku. Kekayaan rasa dari kuliner di tempat yang mereka kunjungi. Cara ketiganya membicarakan makanan yang mereka santap mulai dari tampilan fisiknya hingga kesan mereka pada rasanya, membuat saya ingin mencatat lalu menggarisbawahi keunggulan makanan ini dibanding makanan itu sesuai dengan perdebatan mereka.   

Aruna, narator buku ini sejatinya tidak hanya melulu terobsesi pada makanan. Dia juga mengenalkan pembaca pada karakter Bono, Nad dan Farish dari sudut pandangnya. Keunikan dan perbedaan karakter setiap tokoh mendapat porsi satu bab yang semuanya dinarasikan oleh karakter Aruna. Bono yang memang sejak awal ingin berkarir sebagai chef sejatinya adalah sosok yang berani membuat inovasi dan eksplorasi menu. Penjelajahan makanan bagi Bono adalah sumber inspirasi untuk membuat menu baru di restoran tempatnya bekerja juga membawa menu-menu lokal ke kalangan atas yang menjadi tamu reguler restorannya. Nad yang digambarkan sempurna secara fisik, karir, dan prestasi digambarkan Aruna kerap menjadi trigger yang membuat Aruna rendah diri namun pada saat yang sama, Aruna sama sekali tidak membencinya. Dari kacamata Aruna, Nad adalah kontradiksi itu sendiri dan dalam perjalanannya di buku, Nad menjadi cermin bagi Aruna untuk belajar memaknai hidupnya sendiri. Farish, rekan kerjanya terlihat tidak terlalu menonjol walau selama perjalanan, keduanya mulai saling dekat. Saat Aruna menyadari betapa kuat intrik politik dalam kasus flu burung yang membuatnya berhenti bekerja, Farish justru menjadi sosok yang membersamai Aruna di masa-masa emosionalnya. Kisah wabah flu burung, dalam Aruna dan Lidahnya seperti hanya menjadi pelengkap dan ‘terminal’ pengantar Aruna pada kisah yang sebenarnya. Penjelajahan kuliner keempat karekter dalam buku Aruna dan Lidahnya.

Ini bukan saja buku perdana karya Laksmi Pamunjtak yang saya baca, tapi ini juga buku pertama yang saya baca tentang kuliner yang dibungkus dalam cerita fiksi. Saya rasa, setelah membaca buku ini, baik sekali menonton filmnya. Selain untuk melihat perspektif apa yang disajikan Erwin, kita juga bisa benar-benar menyaksikan seperti apa kuliner itu tampil dalam film. Bukan food vlog atau video promosi kuliner lainnya.
              
  

Comments