Takut Mati

Di museum Colomadu


Ini bukan catatan menyenangkan untuk awal tahun, tapi karena kejadiannya saya alami tepat di malam pergantian tahun, mau tidak mau saya teringat kembali obrolan dengan seorang teman beberapa minggu ke belakang. Sebelum bercerita tentang obrolan dengan teman, saya ingin bercerita tentang hari kemarin. Selasa, 31 Desember 2019.

Hari kemarin dimulai dengan sangat positif. Sejak jam 3 dini hari, saya sudah membuat catatan kecil (ada di postingan sebelum ini) dan saya bagikan dalam status Whatsapp. Saya baru sempat memperbaiki beberapa kekeliruan catatan saya di stasiun sambil menunggu kereta.

Jadi, saya dan seorang teman sudah sepakat untuk menghabiskan waktu di penghujung tahun dengan pelesir ke kota yang dekat-dekat saja, yang penting kota itu tidak macet dan untuk menempuhnya pun kami tidak harus terjebak kemacetan. Pagi itu, setelah merampungkan catatan singkat, saya bergegas siap-siap dan sudah tiba di stasiun jam 6 pagi. Sembari menunggu kereta jam 60.30, saya memperbaiki beberapa salah ketik dan mengkonsistenkan istilah yang dipakai. Selesai mengedit, kereta tiba dan kami bergegas.

Semua baik-baik saja. Di lokasi tujuan, kami menikmati waktu dengan maksimal. Tidak terburu-buru meskipun hujan deras. Kami baru kembali ke Yogya jam 20.30. Sejak dalam perjalanan pulang, saya dan teman memang sanksi kalau kami akan dapat kendaraan umum berbasis aplikasi. Sehari sebelumnya, pemerintah sudah mengumumkan mana saja ruas-ruas jalan yang ditutup untuk perayaan tahun baru. Salah satunya adalah jalan yang melintasi stasiun Tugu. Benar saja, tiba di stasiun, jalan sudah ditutup. Polisi berjaga di beberapa titik. Transportasi umum yang bisa diakses hanya becak dan ojeg omprengan. Dengan terpaksa saya memesan ojeg omprengan yang tarifnya tidak masuk akal. Tidak mungkin saya pakai becak ke tempat tinggal saya yang beberapa jalannya berkontur miring. Di sinilah kejadian bermula.

Sejak saya negosiasi harga, saya punya firasat tidak enak pada supir ojeg. Cara berbicaranya tidak terlalu sopan. Oh sebentar, saya sedang tidak meminta dihormati supir dalam artian yang megalomaniak. Saya hanya merasa cara berbicara dia ketus saat bernegosiasi. Selama di jalan, dia mengemudi dengan kasar dan memilih jalan yang justru macet yang membuat dia harus terus memilih berada di marka tengah jalan.

Kejadiannya sepersekian detik yang tidak saya sadari. Saat itu saya sedang menengok ponsel yang saya genggam di tangan kiri. Tiba-tiba kendaraan di depan sisi kanan saya melaju agak kencang untuk ukuran jalanan macet. Sepertinya si sopir menekan gas agar bisa segera maju ke jalan di depannya yang lengang. Saya cuma sadar satu hal, suara jedug kencang yang disusul rasa sakit di lutut dan kaki saya. Ternyata mobil itu menyerempet dan bagian sisi mulutnya mengenai lutut saya. Reaksi kedua setelah mengaduh adalah menegur sopir ojeg yang terlalu melipir ke kanan jalan. Sepertinya sopir itu tidak menyadari betapa keras benturan tadi sehingga dia justru sibuk menyalahkan mobil yang pergi begitu saja. Saya diamkan dan hanya berkomentar saat menunjuk jalan. Itupun saya ucapkan dengan ketus karena kesal. Dia sama sekali tidak merasa bersalah, apalagi meminta maaf karena mengemudi dengan ceroboh. Sampai di kamar, baru saya sadari ada luka lecet dengan sedikit darah di lutut. Semakin kemari rasanya semakin nyut-nyutan. Saya sempat menangis karena dua hal. Marah pada supir ojeg dan sakit tidak karuan di lutut.

Sebenarnya kejadian itu konyol juga. Setelah seharian saya dilingkupi perasaan positif, saya akhirnya harus menutup hari dengan kejadian tidak menyenangkan. Padahal, saya berencana akan menengok kondisi Malioboro pasca pesta perayaan tahun baru. Sambil menahan sakit, saya mencoba mengingat-mengingat kejadian itu. Satu-satunya yang saya ingat tetap saja detik-detik ketika mobil itu mengenai lutut saya. Saya sama sekali tidak mengingat jenis mobil itu dan bagaimana orang-orang di sekitar saya bereaksi. Karena perhatian saya tersedot penuh pada kejadian, suara benturan (yang di telinga saya terasa keras sekali) dan rasa sakit setelahnya.

Perasaan lain yang saya rasakan tepat saat mobil mengenai lutut adalah perasaan seperti sedang terjatuh dari ketinggian. Perasaan seperti itu pertama kali saya kenal saat bermain Histerya di Ancol dulu kala. Ada perasaan terhempas seolah jantung saya seketika berhenti. Belakangan baru saya tahu, perasaan terhempas dan jantung seperti berhenti itu adalah saat-saat ketika saya merasa ajal mendekati saya. Perasaan yang sama saya alami beberapa bulan lalu saat sebuah motor ninja yang sedang ngebut hampir menabrak saya. Untung sekali si pengemudi punya kemampuan kontrol yang luar biasa dan segera mengerem motor tepat sebelum menabrak saya.

Sama seperti kejadian semalam, semua berlangsung begitu cepat sehingga satu-satunya yang bisa diingat adalah perasaan ketika kendaraan tepat berada di hadapan saya dan menabrak lutut. Saya mengalami perasaan terhempas dengan jantung yang berhenti sepersekian detik. Pada saat kejadian, saya secara otomatis berserah diri, tapi setelahnya reaksi yang timbul adalah tubuh yang bergetar tidak karuan. Mungkin ini respon tubuh pada keterkejutan namun pada saat yang sama muncul perasaan bersyukur karena terbebas dari marabahaya.

Apa yang menyebabkan saya bisa berserah diri di dua kejadian di atas adalah perasaan takut. Sepersekian detik menuju kecelakaan, saya dirongrong perasaan bahwa saat itu adalah saat saya akan mati dan akan menjadi detik terakhir hidup saya di bumi. Saya berserah karena saya tahu, pada momen seperti itu saya tidak punya pilihan untuk menghindar. Tubuh akan mendadak kaku pada kejadian-kejadian seperti itu, jadi opsi untuk sekedar membanting setir agar terhindar tidak selalu bisa jadi pilihan.

Kondisi itu adalah saat saya mengalami atau hampir mengalami kecelakaan. Perasaan takut mati juga muncul di lain kesempatan di mana saya punya pilihan untuk (seolah) menghindari ajal. Dan rupanya, saya bukan satu-satunya orang yang mengalami perasaan ini. Teman saya, yang saya singgung di pembuka catatan juga mengalami hal serupa yang baru saya ketahui saat saya menengoknya.

Dia seharusnya saat ini sedang menimang bayi kecilnya, tapi itu tidak terjadi. Alih-alih dia harus melewati masa penyembuhan lama. Saat persalinan bulan lalu, dia mengalami pendarahan. Bayi mungilnya meninggal, sedangkan dia harus berjuang di ICU. Dia kehabisan banyak darah dan baru berangsur pulih setelah mendapat transfusi darah. Dari banyak cerita, ada satu cerita yang menggelitik saya. Saat masih di ruang ICU, hanya sehari setelah operasi, dia kesulitan tidur. Dia gelisah.

Saya bisa membayangkan seperti apa rasanya berada di ICU setelah kejadian yang menimpa mendiang bapak saya pada Oktober lalu. Saya menyaksikan pasien keluar masuk dalam ragam kondisi dan sebagiannya keluar dari ruang ICU setelah dinyatakan meninggal, seperti mendiang bapak. Tentu dari sisi pasien, kondisi di ICU bisa membuatnya lebih stress karena harus menyaksikan ragam kondisi itu setiap detiknya. Dan akan sangat membuat tertekan ketika yang disaksikan adalah pasien yang satu persatu meninggal. Ini membuat dia sulit tidur. Bukan karena tidak lelah dan merasa kantuk, tapi dia diserang perasaan panik dan takut mati seandaianya dia memejamkan mata. Dia takut tidak akan bisa membuka lagi mata. Karena itu dia memaksa diri untuk terus melek dan baru bisa merasakan ketenangan setelah pindah ke rawat inap.

Apa yang dia alami, perasaan takut mati jika memejamkan mata beberapa kali saya alami. Kejadiannya selalu malam menjelang tidur. Saya beberapa kali mengalami nafas tersengal pendek-pendek. Ini membuat saya takut tanpa alasan jelas. Tetapi saya ingat betul, selama kesulitasn bernafas itu, saya menolak memejamkan mata. Seperti teman, saya merasa khawatir seandainya memejamkan mata, saya tidak akan bangun lagi. Meskipun akhirnya saya tertidur karena mengantuk berat. Inilah yang saya katakan kalau ada kondisi lain di mana saya punya pilihan untuk tidak pasrah saat perasaan akan mati tiba. Beda sekali dengan kondisi saat saya mengalami kecelakaan. Dalam kasus nafas tersengal, saya jelas merasa punya pilihan untuk menolak meskipun pada kenyataannya, ajal tidak akan pernah bisa kita tolak jika saatnya tiba. Penolakan itu menjadi mungkin karena perasaan takut mati tidak terjadi atau datang secara mendadak seperti saat kecelakaan. Saat nafas tesengal, perasaan takut mati muncul belakangan.

Awalnya saya tidak benar-benar menyadari apa penyebabnya nafas tersengal yang sampai membuat saya seolah berada di pintu kematian. Saya hanya ingat mengalaminya beberapa kali di pertengahan tahun lalu. Belakangan saya coba menelusuri kondisi pribadi dan kemungkinan terbesar penyebabnya adalah kondisi psikologis saya yang memang beberapa kali mengamali stress. Saya sudah lupa apakah saya langsung mencari solusi sesaat setelah saya berhasil mengetahui kemungkinan penyebabnya. Tapi belakangan saya sudah tidak mengalaminya lagi. Mungkin saya berusaha keras untuk tetap positif, mungkin juga tubuh bereaksi pada stress dengan cara yang berbeda.

Sebenarnya saya tidak pernah benar-benar merenungi apakah saya takut mati atau tidak. Di banyak waktu, saya selalu melihat kematian sebagai sesuatu yang jauh. Mungkin karena saya menganggap usia saya masih muda. Hanya kejadian-kejadian tertentu seperti di atas yang mengingatkan saya bahwa kematian tidak pernah mengenal usia, waktu, dan tempat. Kesadaran betapa kematian itu hal tak terduga semakin muncul ketika saya menyaksikan banyak orang yang saya kenal dan ketahui meninggal di usia yang relatif muda. Kebanyakan akibat kanker.

Ini mengingatkan saya pada sosok Karma Ura. Sosok pemikir di Bhutan yang menjadi salah satu narasumber Eric Weiner dalam buku miliknya berjudul The Geography of Bliss (Peta Kebahagiaan). Karma Ura punya cara pandang menarik pada kematian. Bagi Karma Ura, untuk menghindari perasaan takut pada mati, kita harus memikirkan kematian setiap hari, sehingga kematian bukan menjadi sesuatu yang seolah khayali dan jauh. Menurutnya, perasaan takut mati ditimbulkan karena beberapa hal seperti memikirkan hal-hal yang kita inginkan belum tercapai sebelum kita mati. Ini membuat kita memikirkan kematian sebagai sesuatu yang menakutkan. Di samping itu, hidup kita juga jadi penuh beban. 

Gagasan mengikis rasa takut mati dengan cara memikirkannya setiap hari, seperti yang Karm Ura sarankan memang terasa masuk akal untuk membuat kita mengingat bahwa kematian adalah bagian dari siklus kehidupan (tak terhindarkan) manusia. Namun saya belum tertarik untuk menerapkan gagasan itu bagi diri saya sendiri.

Saya masih belum menyempatkan diri merenungkan apa reaksi yang akan muncul pada diri saya seandainya saya harus memikirkan kematian setiap hari. Apakah saya akan hidup damai seperti Karma Ura atau justru makin tertekan. Setidaknya, di sini, di lingkungan yang sangat Indonesia ini, kebiasaan mengumumkan kematian seseorang melalui pengeras suara – yang volumenya terdengar minimal untuk satu lingkup rukun tetangga—cukup untuk membawa pikiran saya kembali bahwa kematian bisa datang kapan saja. Saya hanya belum tahu bagaimana menghentikan perasaan khawatir yang menyusahkan seperti yang dikatakan Karma Ura. Perasaan khawatir ketika saya belum mencapai segala hal yang saya inginkan ketika ajal datang.

Ngomong-ngomong, lutut yang dihantam moncong mobil semalam itu masih sakit, tapi tidak cukup membuat saya untuk terus berbaring di kasur. Saya berusaha melatih kaki saya untuk bergerak. Saya berjalan berbelanja ke pasar. Saya naik turun tangga walau ngilu. Saya tidak tahu, apakah ini bentuk penerimaan saya bahwa kejadian semalam adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Yang jelas, saya sudah tidak marah pada supir itu. Mungkin besok lusa, saya sudah terhindar dari perasaan-perasaan khawatir lainnya, seperti Karma Ura yang tetap bersahaja sekalipun sedang menjalani kemoterapi. Hei, ini tanggal 1 Januari 2020. Sedikit berpositif tidak apa-apa, kan?
        
  

Comments